Ratu Rumah

Catatan di tengah padang pasir

Pemimpin Pilihan Anak-Anak

Saat makan malam sambil mengobrol. Mishaal, 8 tahun, kelas 4 ( British Curriculum System ).  Membuat kaget tapi lucu…

Mishaal :  “Bu tau nggak sekarang di kelas ada student council  (ketua kelas, red).”

Ibu         :  “Oh ya? Apa saja tugas student council?”

Mishaal : “Kalau ada anak yang perlu mainan tambahan di taman main, bilang aja ke dia  (student council, red)  nanti  disampein  ke guru tim  student council  dan  Head Primary  ( Kepala Sekolah, red ). Misalnya aku lihat perlu kamar mandi  cowok  lagi karena kurang, kan sering antri tuh. Naah, aku bilang ke dia. Nanti tim gurunya lihat perlu atau nggak. Kalau perlu yaa ditambahin.

Ibu         :  “Waah berat tugasnya student councildengerin permintaan teman-teman lalu harus pinter ngomong  ke Head Primary. Nanti  jelasin  lagi ke teman-teman kalau permintaannya disetujui atau tidak. Gimana cara pilihnya? Sudah ada yang terpilih?”

Mishaal : “Gayuh (anak Indonesia juga) yang terpilih.  Jadi Ms. Ellis kasih kertas untuk kita tulis nama yang kita pilih. Kata Ms. Ellis, ‘Don’t write a name because of he/she is your best friend’. Padahal aku mau tulis namaku sendiri kalau boleh….”

Ibu           : “Haaah??!!%& *nyaris keselek*    Mishaaaaaal itu tandanya kamu belum dipercaya jadi student councilTau nggak  jadi pemimpin itu beraaaat tugasnya harus dengerin maunya rakyat, yaaa teman-teman kamu itu. Harus bisa dan benar apa yang disampaikan ke atasan ( Head Primary), bukan cuma  sampein keinginan kamu sendiri tapi keinginan teman-teman kamu lebih penting  disampein  dan diturutin.

 

Phewww  PR lagi buat ibu untuk  jelasin  tentang kepemimpinan walau sudah sering mengisahkan kepemimpinan era khalifah & sahabiyah. Jelaskan pula arti demokrasi bahwa seorang pemimpin itu diminta oleh rakyat untuk memimpin berdasarkan perolehan suara terbanyak, bukan malah menyodorkan diri mengganggap dirinya pantas menjadi pemimpin.  Ajarkan tentang kepemimpinan sejak usia dini,  pemimpin yang adil tidak berpihak pada partai tertentu, agama tertentu , apalagi mementingkan pribadi, amanah ( dapat dipercaya ) dan bijak lalu aplikasikan dalam kegiatan-kegiatan di rumah sehari-hari (sambil mikir cara-caranya untuk mulai aplikasi besok). Give me your ideas my dear friends

 

Menyiapkan Anak Mandiri

Sebulan yang lalu melepas si sulung (18 tahun) seorang diri kuliah ke Vancouver, 30 jam penerbangan dari tanah air (termasuk transit 11 jam). Alhamdulillah setelah menetap 2 pekan di rumah seorang sahabat yang baik hati akhirnya kost pada keluarga Vietnam yang sangat ramah. Semua ia lakukan sendiri sejak registrasi ulang ke kampus, membuka rekening bank lokal, dan mencari kost. Banyak pertanyaan dari sahabat dan kerabat, “Koq bisa yaa melepas anak sendirian jauh ke LN, anak perempuan pulak?”.Menyiapkan anak mandiri adal ahsebuah proses panjang bukan sim salabim abrakadabra. Mandiri bukan hanya makan, minum, belajar sendiri tapi lebih dari itu, adaptasi pada tempat dan orang-orang baru lebih-lebih adaptasi pada tempat yang multi kultur bukan hanya budaya tapi juga agama. Mandiri dipersiapkan sejak Golden Age tanpa berpihak gender. Alhamdulillaah She loves to stay there.… *usai skype-ing dgn si sulung*

 

Masyrab: Air Minum Gratis Untuk Umum

 

Masyrab di taman Corniche

Masyrab di taman Corniche

Air merupakan kebutuhan hidup setiap manusia yang hidup. Salah satu teori kesehatan yang banyak diketahui masyarakat menyebutkan kebutuhan air yang harus diasup oleh manusia perhari adalah dua liter. Bila kurang dari itu bisa berdampak  buruk bagi kesehatan, mengakibatkan sakit ginjal, buang air tidak lancar, kulit kering, dan dehidrasi. Bagi kita sangat mudah untuk mendapatkan air dimana saja. Setiap melakukan perjalanan saya selalu membawa air kemasan dalam botol agar bila saat haus tak perlu membeli air di tepi jalan apalagi jalan raya semakin padat. Repot kalau terasa haus harus berhenti dulu di warung tepi jalan tapi menahan haus lebih repot lagi dampaknya. Bisa lemas bila terlalu lama. Bila tak membawa air dari rumah bisa kita dapatkan dari pedagang tepi jalan yang  menyediakan berbagai air kemasan beraneka ragam, rasa macam-macam buah, minuman bersoda, rasa teh apalagi air mineral. Asalkan ada uangnya maka saat kita haus dalam perjalanan bisa singgah  membeli air. Bagi pengguna kendaraan umum tak perlu repot singgah ke warung bila kehausan dalam perjalanan karena banyak pedagang  makanan yang juga menjajakan air kemasan ke dalam kendaraan umum. Asalkan hati-hati melihat tanggal batas kadaluwarsa pada produk yang dijajakan di kendaraan umum sebaiknya pula lebih jeli melihat keasliannya apakah benar-benar air yang layak untuk diminum. Hampir di setiap tempat di bumi pertiwi ini kita mudah mendapatkan air. Di warung-warung pelosok daerah , segelas air hangat yang baru diangkat dari ceret tidak perlu dibayar, gratisss.

 

Masyrab di depan masjid

Masyrab di depan masjid

Kebutuhan air di negeri padang pasir lebih besar dibanding di tanah air karena suhu udara saat musim panas bisa menembus angka lebih dari 50C !!!!   Sedangkan suhu kota Jakarta hanya berkisar 300C. Bila kekurangan air dalam tubuh dalam waktu singkat akan mengalami dehidrasi mendadak. Apalagi orang-orang yang bekerja di luar kantor seperti para pengemudi kendaraan dan pekerja bangunan yang banyak beraktifitas di bawah terik matahari paling rentan dengan dehidrasi. Angka pasien dehidrasi di rumah sakit melonjak pada musim panas. Lebih parahnya lagi tidak banyak warung-warung tepi jalan seperti di tanah air. Kalaupun ada umumnya di kawasan pemukiman, kawasan niaga, dan pom bensin baru bisa kita jumpai grocery market, warung kebutuhan sehari-hari. Bisa jadi dalam radius 3 kilometer baru bisa kita jumpai  warung berikutnya. Jauh bukan… Lalu bagaimana bila haus menyerang sementara tenggorokan sudah tersekat akibat panas yang menyengat. Jangan khawatir, di sepanjang jalan raya atau di beberapa rumah warga lokal umumnya terdapat keran air minum untuk umum. Siapa saja yang lewat membutuhkan air minum silahkan ambil gratis tanpa perlu ijin pada pemilik rumah karena diletakkan di depan pagar rumah warga lokal atau kalau di masjid biasanya di beranda masjid dekat pintu masuk. Di beberapa taman bermain anak dan sekolah-sekolah juga terdapat keran air minum seperti ini.  Istilah keran air minum ini dikenal dengan nama masyrab  yang bila diterjemahkan berarti tempat minum.

 

Masyrab di sekolah

Masyrab di sekolah

Masyrab  ini umumnya berbentuk kotak dari aluminium terdiri dari 2 keran air dingin seperti dispenser air minum di rumah pada umumnya tetapi tidak terdapat tabung air melainkan pipa yang dialiri dari Kahramaa, perusahaan listrik dan air milik pemerintah Qatar. Tiap masyrab diberi penyaring air. Pada beberapa lokasi tempat minum ini dilapisi kayu hingga seperti berbentuk jendela rumah warga lokal. Lagipula jadi tidak panas bila disentuh saat suhu mencapai 50C dibandingkan dengan aluminium.

Tagihan bulanannya dibebankan pada pengelola masjid dan pemilik rumah yang memang berniat untuk sadaqah. Kebersihan saringan air, perawatan, perbaikan bila ada kerusakan dibebankan pada pemilik masyrab atau pemilik masjid. Beberapa masyrab di depan rumah bila saya perhatikan ada yang tidak terawat, di sekitarnya kotor dan penuh sampah tetapi tetap saja ada yang mengisi air pada masyrab tersebut. Bila saya perhatikan yang menggunakan fasilitas ini adalah para pengemudi kendaraan yang lewat lalu mampir sebentar mengisi botol minum mereka dan para pekerja bangunan dimana mereka sudah siap membawa botol untuk diisi dengan air tersebut.  Terbayangkah bila fasilitas masyrab juga ada dirumah-rumah dan masjid di Jakarta?

Silahkan jawab sendiri….

 

Masyrab di lapangan bola

Masyrab di lapangan bola

 

 

Pawai Kota Dan Pesta Kembang Api

Sebagai warga yang lahir dan besar di kota Jakarta saya masih ingat jaman orde baru era keemasan mantan presiden Soeharto, awal tahun 70-an, pemerintah DKI Jakarta selalu merayakan HUT kota Jakarta setiap tahun dengan pawai keliling di pusat kota. Sepanjang ingatan saya pawai berlangsung dari tugu Monas mengelilingi  jalan MH Thamrin.

Pagi-pagi sekali dari rumah ayah membonceng saya dan adik-adik dengan Vespa tuanya ke pusat kota menyaksikan pawai tersebut. Walau di bawah terik matahari saya asyik saja  menyaksikan aneka mobil dihias dengan bunga-bunga, potongan styrofoam, ranting pohon, lampu-lampu dan atau kardus-kardus yang dilukis mengikuti bentuk-bentuk bangunan. Ada yang berbentuk rumah-rumah ibadah, istana merdeka, tugu Monas, tokoh-tokoh terkenal masa itu dlsbnya. Betapa kreatifnya mereka membungkus mobil-mobil menjadi seperti bangunan berjalan diwarnai mirip dengan aslinya. Beberapa mobil mewakili instansi-instansi pemerintah dengan slogan-slogan yang tertera di badan mobil. Di beberapa mobil juga terdapat seorang atau sepasang model. Umumnya mereka mengenakan pakaian tradisional Indonesia yang beraneka ragam atau pakaian pekerja professional seperti pejabat pemerintah lengkap dengan seragam batik KORPRI, jas safari warna abu-abu, dokter, perawat, penerbang, dll. Buat saya yang masih kecil saat itu pawai tersebut sangat menarik untuk dilihat, berbaur dengan turis lokal dan asing, tetap manis untuk dikenang. Entah sekarang saya tak tahu lagi apakah pawai kota ini masih berlangsung hingga kini di kota Jakarta.

Hingga akhirnya saya hijrah ke Qatar, sebuah pawai kota selalu diadakan tiap akhir tahun di pusat kota. Negara kerajaan ini setiap bulan Desember menyelenggarakan pawai kota merayakan Qatar National Day (QND). Setiap tanggal 18 Desember ditetapkan sebagai hari libur nasional walau sebetulnya sekolah-sekolah umumnya sudah mulai libur akhir tahun di pekan kedua Desember. Kantor-kantor swasta dan instansi pemerintah atau layanan publik diliburkan.  Sepanjang jalan bermula  dari gedung National Theater hingga Diwan - istana raja – dipenuhi seluruh warga yang ingin melihat pawai kota. Warga luar kota juga tak kalah ketinggalan bahkan beberapa penonton dari  negara-negara tetangga juga memenuhi pusat kota menyaksikan acara tahunan yang selalu dinanti. Walau acara dimulai pukul 8 pagi tetapi warga sudah memadati ruas-ruas jalan  menuju pusat kota sejak subuh bila ingin mendapatkan tempat  strategis menyaksikan perhelatan akbar ini. Jangan harap dapat di baris paling depan bila hadir di lokasi pukul 7 pagi maka kita akan terhalang oleh penonton lain yang sudah berjejalan.

 

 

Pasukan Kuda

Pasukan Kuda

Pasukan Unta

Pasukan Unta

QND

QNDQNDQND

 

Warga akan berdiri di sisi 2 jalan raya yang akan dilewati peserta pawai. Di 2 jalan paralel ini akan dilalui peserta pawai bersamaan, biasanya sisi kanan untuk dilalui pasukan tentara dan keluarga kerajaan sedangkan sisi kiri akan dilalui kendaraan-kendaraan militer, kendaraan antik milik kerajaan,  dan kendaraan layanan publik terkini yang dimiliki negara. Pasukan angkatan darat, angkatan laut, polisi, pengawal kerajaan ( Amiri ), pasukan penjinak bom, pasukan anti huru-hara berbaris rapi diikuti juga pasukan berkuda dan berunta melewati para penonton. Barisan terakhir adalah keluarga raja yang biasanya hanya duduk manis di dalam mobil sambil melambaikan tangan namun pada perayaan QND tahun ini sang raja turun dari mobil melepas jubah warna keemasannya, menyalami warga yang ada di baris paling depan.

Bila tak mendapat baris paling depan tidak mungkin bisa menyaksikan tentara berbaris karena terhalang penonton lain. Yang paling mungkin bisa disaksikan adalah atraksi dari udara berupa pesawat terbang layang, penerbang parasut, atau pasukan angkatan udara membentuk formasi cantik di angkasa. Yup, selain pawai di darat beberapa personil juga akan beratraksi di udara. Penerbang parasut dan penerbang layang akan melayang di udara kemudian mendarat di antara 2 jalan paralel tersebut. Diantara penerbang tersebut ada yang membawa bendera Qatar berwarna merah marun dan putih.

Selain atraksi di darat dan udara, polisi air juga akan melintas di tengah laut tepat di sisi kiri pawai berlangsung, di sepanjang tepi pantai Corniche. Perahu-perahu tradisional mengibarkan layar-layarnya yang kelihatan gagah nan manis  nampak dari sisi tempat saya menyaksikan pawai. Pawai akan berlangsung selama kurang lebih 2 jam, tidak terasa lama karena udara di bulan Desember selalu sejuk meski matahari bersinar terang. Walau harus berangkat subuh tetapi nyaris semua warga memadati pusat kota. Walau kendaraan-kendaraannya  tidak seindah pawai mobil hias di Jakarta saya selalu semangat menghadiri pawai kota ini.

Malam harinya, di hari yang sama, acara yang paling dinanti warga kota pesta kembang api di lokasi yang sama dengan pawai kota.  Kembang api akan memenuhi seluruh tepi pantai Corniche, penonton pun tak kalah padatnya menyaksikan dari taman-taman kota sekitar pantai. Kembang api dimulai pukul 8 malam tetapi warga sudah memadati lokasi sejak pukul 4 sore bahkan ada yang sejak siang sudah duduk manis di tepi pantai berbekal tikar lipat lengkap dengan makanan dan minuman hangat. Mobil-mobil warga lokal yang dicat atau ditempeli stiker berwarna merah marun memadati jalan-jalan raya. Tak hanya mobil yang dihias beberapa  warga lokal mengecat wajah dengan warna bendera merah marun, atau ada yang mengenakan topeng-topeng aneka rupa diikuti pernak-pernik di pakaian mereka. Pemandangan seperti ini selalu menjadi hiburan menyenangkan bagi warga pendatang seperti saya.

Begitu kembang api mulai terlontar ke udara maka tepuk tangan warga dan suara decakan kagum, “Wooooowwww…..”,  mulai terdengar mengiringi pesta kembang api tersebut. Berbeda dengan kembang api di tanah air yang tidak setinggi dan melebar memenuhi kota. Kembang api kelihatan seperti lahir dari permukaan laut menyembur ke angkasa cahayanya memenuhi pusat kota. Walau  hanya berlangsung 10 menit pesta kembang api ini selalu dinanti warga kota setiap tahun. Walau bukan di pergantian tahun, pesta kembang api ini sangat menghibur warga yang memulai liburan akhir tahun.

Kembang Api

Kembang Api

QND

 

QND

 

[ Jalan-jalan ] Khutbah Jumat di Vietnam Berbahasa Indonesia

Pada kesempatan musim dingin beberapa waktu lalu saya dan anak-anak mendapat kesempatan ikut suami tugas ke Ho Chi Minh, Vietnam. Hitung-hitung menghangatkan diri dari dinginnya negeri padang pasir. Kami tiba di sana malam hari jadi hanya kami isi dengan makan malam di warung makan pinggir jalan dekat hotel. Udara yang hangat agak lembab seperti di tanah air membuat kami berkeringat usai berjalan kurang lebih 1 kilometer dari hotel ke lokasi warung makan.

Di lokasi tersebut berderet warung-warung makan yang sebenarnya menempati jalan raya yang bila pagi hingga sore hari sangat padat kendaraan lalu lalang. Selain warung makan di sisi berlawanan berderet pula penjaja kaki lima yang menawarkan pakaian, asesoris wanita, mainan, yang kurang lebih sama dengan pasar kaget di tanah air saat malam hari. Kepulan asap dari wajan para pedagang mengeluarkan aroma sedap mengundang selera makan.

Kami sangat ketat memilih makanan halal tiap kali bepergian ke negara lain maka kami memesan hanya makanan makanan laut seperti: nasi goreng cumi, udang goreng saus tiram, ikan bakar, dan cumi bakar. Rasanya sama persis dengan sajian warung tenda di tanah air. Ada pilihan makanan sehat khas Vietnam, udang atau ikan dicampur bihun rebus dan sayuran lalu dibungkus rice paper. Tak lupa air kelapa muda pilihan minum kami yang tidak ada di Qatar. Dalam perjalanan pulang ke hotel kami menemukan restoran halal justru tak jauh dari hotel. Sebelumnya saya yakin pasti ada komunitas muslim di sini karena saya melihat seorang pedagang kaki lima menjajakan mukena, perlengkapan salat untuk wanita muslim.

Vietnamese Spring Roll

Vietnamese Spring Roll

viet5

Hari pertama kami menuju agen wisata dalam kota untuk mengikuti wisata Mekong River menggunakan bus bersama turis-turis lain. Sebelum tiba di sungai Mekong kami mampir sejenak di lokasi industri kerajinan tangan dari kayu dan gerabah yang mana para pekerjanya adalah korban perang Vietnam. Umumnya mereka memiliki cacat fisik seperti kaki atau tangannya hanya satu. Ada juga yang tak memiliki kaki sama sekali jadi ia bekerja menggunakan kursi roda.

Walau menyesakkan dada melihat pekerja yang cacat tetapi saya kagum dengan hasil karya mereka. Kalau tidak melihat bengkel kerjanya hampir tidak percaya bahwa kerajinan tangan yang dipajang di showroom dibuat oleh mereka. Perjalanan dilanjutkan ke sungai Mekong. Bus berhenti di pelabuhan kecil yang cukup rapi dan bersih. Kami menuju sebuah perahu motor berkapasitas kurang lebih 20 penumpang. Perjalanan 15 menit menuju sebuah daratan di tengah sungai mengingatkan saya akan kampung halaman ayah di Pontianak, Kalimantan Barat. Seandainya pemerintah daerah setempat dapat menjadikan sungai Kapuas sebagai objek wisata turis asing pasti akan menguntungkan pemerintah dan warga di sana. Toh sungainya sama-sama lebar dan berwarna coklat.

DSC_0512

viet3

Kami menepi di daratan seberang menyaksikan atraksi ular berbisa. Semua turis diijinkan memegang atau mengalungkan seekor ular sendok yang telah dibuang bisanya ke leher. Masih di kawasan yang sama para turis dapat menyaksikan pembuatan coconut candy yang dikenal di kampung saya sebagai dodol. Cara pengolahannya pun sama persis dengan dodol yang ada di tanah air menggunakan kelapa dan daun pandan. Para turis dapat ikut serta membuat dodol tersebut dari mulai awal pembuatan hingga pengemasan yang siap dijual. Duuh, lagi-lagi teringat kampung halaman, andai saja dodol durian dari Pontianak bisa dikenal turis mancanegara.

Menjelang siang kami menyantap buah-buahan tropis seperti pepaya, nanas, dan mangga sambil disuguhi kelompok musik daerah setempat. Postur tubuh dan wajah orang Vietnam hampir serupa dengan orang Indonesia mungkin karena sama-sama di kawasan Asia Tenggara. Dari situ kami naik delman ke tepi sungai untuk naik sampan – perahu kecil menggunakan dayung -untuk menuju perahu besar yang semula mengantar kami ke lokasi tersebut. Tanpa terasa hampir seharian kami berada di tepi sungai Mekong. Menjelang sore kami kembali ke hotel.

DSC_0614

Coconut Candy alias dodol

Mengaduk adonan dodol

Mengaduk adonan dodol

Pengamen

Pengamen

Vietnam

Vietnam

Sungai Mekong

Sungai Mekong

Hari ke dua kami mengunjungi Chu chi tunnel, lokasi bersejarah bangsa Vietnam di mana pada masa perang mereka membuat kota di bawah tanah untuk menghindari penyerangan negara adikuasa Amerika. Nggak kira-kira mereka membangun gua hingga 3 lapis di mana lapis ke-3 adalah tempat pertahanan terakhir bila lapisan 1 dan 2 diserang oleh bom. Di kota bawah tanah tersebut mereka membuat posko kesehatan berupa rumah sakit kecil untuk pejuang korban perang. Cara masuk ke kota tersebut melalui lubang kecil yang hanya cukup seukuran tubuh orang Vietnam agar tentara Amerika yang tubuhnya berukuran besar tidak dapat masuk ke lubang tersebut. Beberapa gua yang ada di bawah tanah tersebut akan berujung di beberapa titik sungai. Lubang tempat mereka masuk akan ditutupi daun-daunan untuk menyamarkan agar seperti tanah biasa. Di lokasi gua-gua kecil tersebut banyak terdapat perangkap-perangkap buatan untuk mengelabui tentara Amerika.

Dapur umum masa perang pun masih dipertahankan keberadaaannya, masuk ke lubang lapisan pertama, asapnya mengepul di sisi yang jauh dari dapur agar tidak diketahui tentara Amerika pada masa perang. Mereka memasak di pagi hari saat embun masih turun agar kepulan asap dapur tersamarkan embun pagi. Di lokasi dapur umum para turis disuguhi singkong rebus yang masih hangat dan teh tawar panas. Hmm, lagi-lagi membayangkan kampung halaman….

Dari lokasi dapur umum terdengar suara-suara tembakan senjata api membuat susana perang sangat terasa. Turis dapat menggunakan senjata api di lokasi shooting rangedengan membeli beberapa butir peluru.

Dari Chu chi tunnel kami menuju museum perang Vietnam. Saya tak dapat berkata apa-apa menyaksikan foto-foto sejarah perang yang diabadikan oleh beberapa wartawan perang masa itu. Melihat akibat bom kimia ternyata berakibat cacat fisik dan mental terhadap beberapa anak keturunan tentara dan korban perang.

Vietnam

DSC_0017

DSC_0990

DSC_0982

DSC_0115

DSC_0190

Hari ke tiga di Ho Chi Minh bertepatan dengan hari Jumat kami berencana melaksanakan salat Jumat di masjid dekat hotel. Informasi masjid kami dapat dari restoran halal dekat hotel. Sebelum memasuki waktu salat kami singgah di depan gedung opera teater Saigon yang dibangun tahun 1897 oleh arsitek Perancis Ferret Eugene. Dari gedung teater di jalan Dong Du kami berjalan kaki ke masjid yang di depannya berderet restoran-restoran halal.

Tak ada yang unik dari bangunan masjid tersebut. Saya melihatnya hampir sama dengan masjid-masjid yang ada di pulau Jawa. Apalagi tempat berwudhu sama persis dengan tempat wudhu masjid jaman dulu di pulau Jawa. Beberapa wanita lokal telah siap mengikuti salat Jumat di bagian teras samping masjid. Sayangnya tak satupun yang dapat berbahasa Inggris atau Melayu. Jadi saya tak dapat berkomunikasi untuk menyerap informasi apapun mengenai bangunan masjid dan populasi warga muslim di Vietnam.

DSC_0495

viet11

Saat khatib menyampaikan khutbah saya sangat terkejut karena khutbah disampaikan dalam bahasa Indonesia campur Melayu. Yang saya heran dari jamaah wanita semuanya tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia. Saya kebingungan mencari orang yang bisa dijadikan nara sumber tapi semuanya memasang wajah bingung juga. Kembali ke hotel kami memanggil taksi yang ada di depan masjid. Si sopir melipat sajadah dan meletakkan di dashboard mobil, lagi-lagi ia juga tak dapat berbahasa Inggris atau Melayu. Puas dengan jalan-jalan kali ini walau menyisakan kebingungan mengapa bahasa Indonesia digunakan khatib Jumat di Vietnam.

« Older posts

© 2014 Ratu Rumah

Theme by Anders NorenUp ↑